Rabu, 04 Juni 2025

MENELUSURI MAKNA BATIN DALAM SHOLAWAT TARHIM KARYA SYEKH MAHMUD KHALIL AL-HUSSARY PERSPEKTIF HERMENEUTIKA SPIRITUAL



https://images.app.goo.gl/qK9ikfrS573EoYht7

Penulis: Muhamad Zafron Wasiq

Nuristafilosofi.com Sudah tidak asing lagi bagi kita jika mendengar istilah sholawat tarhim. Lantunan sholawat ini sering sekali kita dengar setiap kali ingin memasuki waktu sholat subuh atau magrib. Pelantunan sholawat ini di Indonesia memiliki Sejarah yang begitu Panjang. Namun disini penulis tidak akan membahas Sejarah masuk dan populernya sholawat tarhim di Indonesia. Sholawat ini pertama di lantunkan oleh Syekh Mahmud Khalil Al-Hussary. Beliau merupakan seorang qori ternama lulusan al-Azhar. Beliau juga merupakan ketua Jam'iyatul Qurra' wal Huffadz di Mesir (organisasi penghafal Al-Qur'an). Beliau lahir di Tanta, Mesir pada tahun 1917 dan wafat di Kairo pada tahun 1980.

Dilihat dari segi bahasa, sholawat tarhim terdiri dari dua suku kata, yaitu kata “sholawat” dan kata “tarhim”. Kata tarhim sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu dari akar kata "رحم" (rahma), yang berarti "belas kasih" atau "kasih sayang". Lebih umumnya masyarakat Indonesia memaknai sebagai seruan menjelang waktu shalat magrib atau subuh. Dalam Jurnal Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 2 Nomor 2 (2019) terbitan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menjelaskan bahwa tarhim bisa berupa bacaan ayat Al-Qur’an, sholawat, puji-pujian, atau doa-doa.

Sedangkan makna kata sholawat sendiri pada dasarnya merupakan bentuk pujian dan kalimat penghormatan kepada Rasulullah Saw. Mengenai sholawat sendiri, umat islam sangat dianjurkan melantunkannya. Bahkan sholawat merupakan salah satu kalimat yang special. Dalam QS. Al-Ahzab ayat 56 dijelaskan bahwa “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”. Bahkan sholawat merupakan salah satu rukun di dalam shalat.

Di Indonesia sendiri sholawat tarhim merujuk pada lantunan sholawat yang di lantunkan oleh Syekh Mahmud Khalil Al-Hussary. Lantunan sholawat ini sering terdengar di surau-surau ketika menjelang waktu shalat Magrib dan Subuh. Untuk lirik dari sholawat ini sebagai berikut:

الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ الله • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَامَنْ اَسْرَى بِكَ مُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ ۞ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامْ وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا وَ سَمِعْتَ نِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامْ ۞ يَا كَرِمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞ صَلىَ اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَ عَلىَ عَلِكَ وَ اَصْحَابِكَ أجْمَعِيْنَ۞

Artinya: “Sholawat dan salam semoga dilimpahkan padamu wahai pemimpin para pejuang, Yaa Rasulullah, sholawat serta salam semoga diberikan kepadamu wahai penuntun petunjuk Ilahi, wahau makhluk yang paling baik, sholawat dan salam semoga tercurahkan atasmu, Wahai penolong kebenaran, Ya Rasulullah, sholawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu. Duhai Yang Memperjalankanmu pada malam hari, Dialah Yang Maha Melindungi, Kau memperoleh apa yang engkau dapat sedangkan seluruh manusia tidur, Dibelakangmu ada semua penghuni langit saat mengerjakan salat dan engkau jadi imam, Kau diberangkatkan menuju Sidratul Muntaha sebab kemulianmu, Dan suara ucapan salam atasmu kau dengar. Wahai yang sangat mulia akhlaknya, Ya Rasulullah, Semoga sholawat selalu dilimpahkan kepadamu, untuk keluarga dan sahabatmu,”

Dapat kita lihat dari lirik sholawat tersebut banyak berisi sanjungan atau pujian terhadap Rasulullah Saw. Disini penulis melihat adanya rasa cinta yang mendalam dari Syekh Mahmud Khalil Al-Hussary terhadap Rasulullah Saw. Kita tidak dapat mengelak, bahwasanya jika kita mencintai sesuatu atau seseorang kita pasti sering menyanjung-nyanjungnya. Namun lebih dalam lagi, mencintai juga bisa diartikan sebagai rasa rindu yang mendalam pada sesuatu atau seseorang.

Tentang Cinta

Rabi’ah al-Adawiyah dalam perjalanan spiritualnya, ia membagi makna cinta menjadi dua, yaitu cinta rindu dan cinta karena layak dicintai. Kita garis bawahi makna cinta yang pertama, yaitu cinta rindu. Makna cinta ini ia dapat ketika ia dalan perjalanan mengenal Tuhan. Ia menempatkan Tuhan sebagai Kekasih yang ia dan Tuhan saling merindukan. Hal ini dapat kita lihat dalam salah satu syairnya yang berbunyi “ya Allah, segala usahaku dan segala keinginanku di antara kenikmatan kenikmatan dunia adalah untuk mengingat-Mu. Dan di akhirat, di antara segala kenikmatan akhirat, adalah bertemu dengan-Mu. Demikianlah dengan diriku, sebagaimana telah kukatakan. Kini perbuatlah sesuai yang Engkau kehendaki”.

Menurutnya mencintai Tuhan merupakan maqom tertinggi dan cinta menjadi penggerak pikiran, perasaan, perkataan serta amal perbuatan. Maka daripada itu menurutnya dalam menyembah Tuhan haruslah berdasarkan atas cinta (cinta Ilahi). Kita menyembah Tuhan bukan karena kita takut terhadap siksanya ataupun mengharap imbalannya, namun kita menyembah Tuhan karena kita mencintai Tuhan. Dalam arti yang lebih singkat menurut Rabi’ah bahwa beribadah bukanlah didasari takut akan neraka sekaligus mengharap akan surga, melainkan terlebih dengan cinta. Hal ini dapat dipahami jika beribadah untuk mencari pahala, maka hubungan dengan Tuhan menjadi transaksional.

Sedikit Pengenalan Terhadap Hermeneutika Spiritual

Supaya kita dapat mengetahui makna dalam suatu teks, kita perlu alat yang namanya hermeneutika. Hermeneutika adalah sebuah alat untuk memahami teks. Teks disini tidak sebatas tulisan di atas kertas. Namun bisa berupa persepsi seseorang atau bisa juga suatu kejadian alam.

Lebih lanjutnya untuk memahami makna spiritual di dalam teks, seperti contohnya lantunan sholawat tarhim diatas, kita memerlukan alat yang namanya hermeneutika spiritual. Lebih spesifik lagi, hermeneutika spiritual ini ia berfungsi mencari makna spiritual/batiniah di dalam suatu teks.

Mencari Makna Batiniah di Dalam Sholawat Tarhim

Kita lihat kembali lirik sholawat tarhim di atas, dimana liriknya mengandung banyak sanjungan terhadap Rasulullah Saw. Seperti yang penulis katakana di atas, seseorang yang sedang mencintai sesuatu atau seseorang pasti ia sering menyanjung-nyanjung hal yang dicintaianya. Begitu juga mengenai cinta yang penulis bahas diatas menggunakan sudut pandang sufistik Rabi’ah al-Adawiyah bahwasanya makna cinta bisa dikatakan sebagai rindu yang mendalam.

Dalam hal sholawat tarhim yang di lantunkan Syekh Mahmud Khalil Al-Hussary, kita dapat melihat benih-benih kerinduan beliau terhadap Rasulullah Saw. Selain beliau kita sebagai umatnya haruslah merindukan Rasulullah Saw. Karena beliau merupakan sosok makhluk yang patut dirindukan. Dalam kata lain sholawat juga dapat kita maknai sebagai rasa rindu kita terhadap Rasulullah Saw.

Sedikit Kesimpulan

Dapat kita katakana sholawat tarhim, bukan hanya seruan menjelang waktu sholat magrib atau subuh. Melainkan sebuah seruan kerinduan kita terhadap Rasulullah Saw. Dapat kita katakana bahwa bersholawat bukan hanya mengagungkan atau mengharap syafa’at Rasulullah Saw, melainkan juga rasa rindu kita terhadap Rasulullah Saw. Yang dimana kita sebagai umatnya pasti ingin sekali bertemu dengan Rasulullah Saw.

Referensi:

Sapto Wardana. dkk, (2024), Analisis Bentuk Dan Maqom Sholawat Tarhim Di Masjid Jami’ Assagaf, Pasar Kliwon, Surakarta, Jurnal Kajian Seni, 10 (2), 200-202.

Doi: https://doi.org/10.22146/jksks.95380

Panshaiskpradi, (2019), Resepsi Khalayak Mengenai Tarhim. Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, 2 (2), 183-185.

DOI: https://doi.org/10.15575/cjik.v2i2.4966

Za’in Fiqron, M., Dwi Parawati, E., (2023), Relevansi Tasawuf Cinta Ilahi Rabi’ah al-Adawiyah terhadap Problem Radikalisme Beragama di Indonesia, Jurnal: Hikamia, 3 (2), 79-80.

Doi: https://doi.org/10.58572/hkm.v3i2.26


Minggu, 01 Juni 2025

Apakah Perempuan Pantas Untuk Memimpin, Menurut Gus Baha Dalam Kacamata Hermeneutika Spritual

 

 tentang memilih pemimpin Kitab Jauharoh At Tauhid

 


 Penulis: Farabi Alfa Bianus

Pendahuluan          

Dalam sejarah panjang penafsiran Islam, tema kepemimpinan sering kali dikaitkan dengan struktur hierarkis dan patriarkal, yang menempatkan laki-laki sebagai pemimpin dalam berbagai dimensi kehidupan sosial dan keluarga. Dominasi penafsiran ini umumnya mengacu pada QS. An-Nisa: 34, yang berbunyi:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُۗ وَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًاۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا

        "Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, berilah mereka nasihat, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu,) pukullah mereka (dengan cara yang tidak menyakitkan). Akan tetapi, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.

        Tafsir klasik seperti karya Ibnu Katsir dan tafsir kontemporer seperti Al-Misbah oleh M. Quraish Shihab umumnya memahami ayat ini secara literal dalam konteks tanggung jawab finansial dan sosial laki-laki terhadap perempuan. Namun demikian, pendekatan ini—meskipun memiliki landasan dalam fiqh dan realitas historis—tidak dapat berdiri sendiri jika tidak dilengkapi dengan pendekatan hermeneutika spiritual, yang menekankan dimensi batiniah, keadilan ilahiah, dan hikmah universal dari teks-teks suci.

                               

                                  

Pandangan Gus Baha Terhadap Kepemimpinan Perempuan

 

  Salah satu tokoh yang menyuarakan pendekatan kontekstual, inklusif, dan mendalam dalam menafsirkan teks adalah KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Dalam berbagai pengajiannya, Gus Baha menekankan bahwa teks agama bukan untuk mendominasi, tapi untuk membawa kemaslahatan, keadilan, dan keberkahan. Hal ini sangat penting untuk membingkai ulang diskursus kepemimpinan perempuan dalam Islam.

 

Hermeneutika Spiritual: Jalan Menuju Keadilan Batiniah

        Hermeneutika spiritual adalah pendekatan tafsir yang tidak hanya bertumpu pada makna literal dan historis teks, tetapi menggali makna esoterik, simbolis, dan transformatif. Ia berpijak pada keyakinan bahwa wahyu ilahi tidak pernah membelenggu jiwa, melainkan membebaskannya menuju kebenaran hakiki.

        Metode ini berlandaskan pada:

  1. Pemahaman batiniah dan keterbukaan terhadap dimensi transendental.

  2. Simbolisme dan alegori sebagai jembatan makna antara dunia zahir dan batin.

  3. Transformasi diri sebagai tujuan utama tafsir, bukan sekadar reproduksi hukum.

  4. Pencarian nilai universal dan abadi, bukan eksklusif dan historis semata.

        Dalam kerangka ini, ayat-ayat seperti QS. An-Nisa: 34 tidak boleh dipahami secara terisolasi, melainkan harus dilihat sebagai bagian dari misi etis dan spiritual Islam untuk menegakkan keadilan dan mengangkat martabat manusia, termasuk perempuan.

 

Gus Baha dan Pendekatan Hikmah dalam Kepemimpinan

        Gus Baha dalam ceramahnya yang diunggah melalui kanal YouTube Santri Gayeng, menyatakan bahwa Islam tidak pernah mengharamkan perempuan untuk menjadi pemimpin selama kepemimpinan itu membawa keadilan dan maslahat. Ia menyatakan:

"Jangan baca ayat-ayat secara saklek... lihatlah maslahatnya, hikmahnya. Dalam banyak hal, perempuan lebih lembut, lebih penyayang, dan lebih bisa memahami kebutuhan sosial."

Pendekatan Gus Baha sangat sejalan dengan hermeneutika spiritual, karena menolak pembacaan yang rigid, kaku, dan bias gender. Beliau juga sering mengingatkan bahwa:

"Nabi tidak hanya datang membawa hukum, tapi membawa rahmat."
(Lihat QS. Al-Anbiya: 107)

"وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ"

        Jika kenabian itu rahmat, maka semua konsekuensi dari ajaran beliau, termasuk struktur sosial dan kepemimpinan, harus selaras dengan nilai rahmat, bukan diskriminasi.

 

Dalil yang Mendukung Kepemimpinan Perempuan

        Meski sering dibenturkan dengan hadis “tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan” (HR. Bukhari), perlu diingat bahwa hadis ini keluar dalam konteks politik dinasti Persia, bukan sebagai kaidah umum. Banyak ulama seperti Imam Nawawi dan Ibn Hajar menyatakan bahwa hadis ini kontekstual dan tidak universal. Sebaliknya, terdapat banyak teks yang justru memberi ruang besar bagi perempuan untuk tampil memimpin:

  1. Ratu Saba’ (Balqis) dalam QS. An-Naml: 23-44, yang disebut sebagai pemimpin yang adil, bijak, dan mampu berdialog secara rasional dengan Nabi Sulaiman. Allah tidak mengkritik kepemimpinannya, bahkan menampilkannya dengan penuh pujian.

  2. Hadis tentang Sayyidah Aisyah, pemimpin intelektual dan mujtahidah besar yang menjadi sumber ilmu bagi para sahabat.

  3. Ummu Salamah, istri Nabi, yang pendapatnya diikuti Rasul ketika para sahabat ragu-ragu dalam perjanjian Hudaibiyah.

  4. Khadijah ra., pebisnis, pengambil keputusan, dan tokoh strategis dalam dakwah awal Islam.

Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah menyebut manusia secara umum sebagai khalifah, tanpa membedakan jenis kelamin: (QS. Al-Baqarah: 30)

"إني جاعلٌ في الأرض خليفة"


"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."

 

 Melampaui Tafsir Normatif: Menuju Makna Transendental

        Tafsir normatif dan fiqh klasik memang sering menyatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin perempuan, tetapi hermeneutika spiritual mengajak kita untuk melihat apakah struktur itu masih relevan dengan prinsip keadilan dan rahmat ilahi hari ini. Dalam konteks sosial yang telah berubah, Gus Baha menegaskan pentingnya ijtihad baru yang tidak memberangus potensi perempuan hanya karena teks literal. Ia berkata:

"Dalam banyak hal perempuan lebih kuat menahan emosi, lebih teliti, dan lebih sabar. Maka, tidak logis jika semua keputusan hanya boleh dipegang laki-laki."

 

Kesimpulan

Jika kita gabungkan pendekatan hermeneutika spiritual dan hikmah Gus Baha, maka menjadi jelas bahwa kepemimpinan dalam Islam tidak boleh direduksi hanya pada jenis kelamin, tetapi harus bertumpu pada keadilan, keberkahan, kemaslahatan, dan nilai ilahi. Perempuan memiliki hak untuk menjadi pemimpin, selama ia memiliki kompetensi, integritas, dan kemampuan untuk membawa kebaikan dan keadilan. Melalui pembacaan batiniah terhadap teks, dan pemahaman kontekstual atas sabda Nabi serta praktik para sahabat, kita menemukan bahwa Islam adalah agama yang memuliakan perempuan dan memberi mereka tempat yang tinggi dalam semua aspek kehidupan, termasuk kepemimpinan.

 

Daftar Pustaka

  1. Gus Baha. Pandangan Gus Baha Tentang memilih pemimpin kitab Jauharoh At Tauhid . Video ceramah. Kanal YouTube: SANTRI GAYENG https://youtu.be/1R1qDy-RhwU?si=z7zP_WBIsLjIVxTq
  1. Abu Zayd, Nasr Hamid. Mafhūm al-Naṣṣ: Dirāsah fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Beirut: Al-Markaz al-Tsaqāfī al-‘Arabī, 1990.
  2. Al-Qur’an al-Karim. Terjemah Departemen Agama Republik Indonesia.

  3. Gus Baha. Pandangan Gus Baha Tentang Pemimpin Perempuan. Video ceramah. Kanal YouTube: SANTRI GAYENG.  https://youtu.be/iuPtm3FbQ9s?si=k0LCqGdVoZrJOIzF 

  4. Ibn Kathir. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Beirut: Dar al-Fikr, 2000.

  5. M. Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur'an. Jakarta: Lentera Hati, 2005.

  6. Mulia, Siti Musdah. Islam Menggugat Poligami. Jakarta: Kompas, 2004.

  7. Nasr, Seyyed Hossein. The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity. New York: HarperOne, 2002.

  8. Shihab, M. Quraish. Perempuan: Dari Cinta hingga Seks, dari Nikah Mut’ah hingga Nikah Sunnah. Jakarta: Lentera Hati, 2005.

  9. Wadud, Amina. Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective. New York: Oxford University Press, 1999.

  10. Yusuf al-Qaradawi. Fatawa Mu‘asirah. Kairo: Dar al-Shuruq, 1998.


Jumat, 15 Maret 2024

Pendidikan karakter dan program Tahfiz SMP Al-Ma’arif Bantul





Oleh: Farabi Alfa Bianus dan Ahmad Nur Hidayat

Nuristafilosofi.com Pendidikan karakter merupakan aspek penting dalam sistem pendidikan Indonesia. Sejak awal kemerdekaan, pemerintah telah mencanangkan pembangunan karakter bangsa melalui dunia pendidikan. Namun, implementasinya baru tampak secara nyata setelah tahun 1960-an, ketika pendidikan budi pekerti mulai dimasukkan secara eksplisit ke dalam kurikulum. Seiring waktu, mata pelajaran seperti agama, seni, dan olahraga pun turut diakui sebagai sarana pembentukan watak dan moral generasi muda.

Salah satu wujud nyata pendidikan karakter saat ini adalah integrasi program tahfiz Al-Qur’an di sekolah-sekolah formal. Program ini tidak hanya bertujuan mencetak penghafal Al-Qur’an, tetapi juga membentuk siswa yang memiliki akhlak mulia dan kecintaan terhadap nilai-nilai keagamaan. Salah satu sekolah yang telah mengembangkan program ini adalah SMP Al-Ma’arif Bantul, yang terletak di lingkungan pesantren dan berdiri sejak tahun 1996.

Program tahfiz di SMP Al-Ma’arif Bantul mulai dijalankan secara resmi pada tahun 2021. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari ekstrakurikuler setiap hari Sabtu. Meskipun berada di lembaga formal, program tahfiz di sekolah ini tetap menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang lazim digunakan di pesantren, seperti pembiasaan membaca Al-Qur’an, pelatihan tajwid, dan pelatihan makhrajul huruf. Tidak hanya itu, para pembimbing juga menekankan pembentukan adab, etika, dan moral peserta didik.

Menurut hasil riset yang dilakukan oleh Rakhmat (2020) dalam jurnal Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam, metode-metode tahfiz yang efektif di sekolah antara lain adalah:

  1. Metode Tikrar (pengulangan ayat): peserta didik mengulang ayat minimal 10–20 kali agar lebih tertanam dalam ingatan.
  2. Metode Talaqqi dan Tasmi’: murid menyetorkan hafalan langsung kepada guru dengan bimbingan tajwid.
  3. Metode Muroja’ah Terjadwal: hafalan lama diulang secara rutin dengan jadwal yang terstruktur.
  4. Metode visualisasi dan pemetaan ayat: membantu mengaitkan ayat dengan makna dan susunannya.

Sebagian dari pendekatan tersebut telah diadopsi oleh SMP Al-Ma’arif Bantul, meskipun dalam skala yang disesuaikan dengan kapasitas sekolah dan latar belakang siswa yang sebagian besar berasal dari masyarakat desa. Program ini dirancang agar siswa tidak hanya mampu menghafal, tetapi juga memahami dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala sekolah SMP Al-Ma’arif Bantul, Bapak Abdul Ghoni, S.Ag., menyampaikan bahwa program tahfiz ini lahir dari keinginan untuk menjadikan sekolah sebagai tempat seimbang antara pendidikan umum dan agama. Ia menekankan pentingnya menjembatani nilai-nilai spiritual ke dalam pendidikan formal agar siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang utuh—cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual.

Penting pula dicatat bahwa keberhasilan program ini tidak terlepas dari peran guru sebagai pembimbing dan teladan. Guru diharapkan tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menjadi inspirasi dan panutan bagi siswa dalam menumbuhkan kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab.

Dengan strategi yang berkelanjutan dan keterlibatan aktif seluruh elemen sekolah, program tahfiz di SMP Al-Ma’arif Bantul menjadi salah satu contoh inovasi pendidikan karakter yang aplikatif dan kontekstual. Di tengah tantangan zaman modern, model pendidikan seperti ini menjadi relevan untuk membentuk generasi muda yang kuat secara moral dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

Daftar Pustaka

  • Jurnal Pendidikan Karakter. (2014). Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun IV, Nomor 3, Oktober.
  • Rakhmat, M. (2020). Efektivitas Program Tahfidzul Qur'an dalam Membentuk Karakter Religius Peserta Didik. Jurnal Tadrib, 6(2), 122-134.
  • Catatan lapangan Farabi Alfa Bianus. Observasi lapangan di SMP Al-Ma’arif Bantul, 14 Oktober 2023.

PERAN K.H. MUSTHOFA GHOLAYIN DALAM PEMBERDAYAAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN NURUL IMAN SOROGENEN BANTUL




PERAN K.H. MUSTHOFA GHOLAYIN DALAM PEMBERDAYAAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN NURUL IMAN SOROGENEN BANTUL 


K.H. Musthofa Gholayin memiliki latar belakang keluarga yang sederhana dengan keterbatasan ekonomi serta pendidikan agama. Semasa kecil, ia hanya mempelajari ilmu agama dan ilmu-ilmu umum dari lingkungan sekitarnya. Setelah selesai pendidikan MI sampai MTS, ia mendalami ilmu agamanya dengan berpindah-pindah pondok pesantren di daerah Jawa Timur hingga pondok terakhir yang ia jejaki yaitu di Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem, Bantul untuk mendalami ilmu al-Qurannya.

Pada tahun 1999, K.H. Musthofa Gholayin mulai merintis Pondok Pesantren Nurul Iman dengan niat menampung serta mendidik anak yatim dan kaum duafa, serta orang yang dianggap kurang bermoral seperti preman. Disamping itu, tahun 2007-2014 K.H. Musthofa mendidirikan sebuah lembaga pendidikan formal seperti SMP Ma’arif Nurul Iman dan SMK Nurul Iman yang dinaungi Yayasan Sosial dan Pendidikan PP Nurul Iman. Adapun pendidikan non formal yaitu PAUD Mutiara Hati, Madrasah Diniyah al- Furqon II, dan TPA al-Furqon II. Tahun 2017-2018, ia mendirikan sebuah usaha untuk mengembangkan jiwa kemandirian santri dalam bidang ekonomi agar menjadi bekal ketika berada di masyarakat.

peran K.H. Musthofa Gholayin dalam bidang pendidikan dan bidang kewirausahaan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian yaitu pendekatan biografi-sosiologi. Adapun teori yang digunakan adalah teori peranan sosial yang dikembangkan oleh Erving Goffman. Inti dari teori peranan sosial yaitu menganalisis suatu peran seseorang yang mempunyai kekuasaan dalam struktur sosialnya yang membawa pengaruh demi terciptanya sebuah tatanan masyarakat stabil. 

Pondok Pesantren Nurul Iman merupakan pondok berbasis Tahfidhul Quran serta memperdayakan santri, yang mana latar belakang santri terdiri Anak yatim dan kaum dhuafa serta orang yang kurang bermoral seperti preman (orang yang terkena pengaruh lingkungan bebas). Adapun gagasan dari K.H. Musthofa Gholayin yaitu membangun jiwa mandiri dan keterampilan dalam bidang enterprenur (pengusaha) dengan tujuan santri memiliki bekal ketika keluar dari pondok dan menjadi panutan masyarakat.



Peran kiyai dalam Pondok pesantren 


fase perkembangan pondok pesantren tidak jauh berbeda dengan lembaga- lembaga lain, bahkan dalam kondisi tertentu bisa jauh lebih maju.

Secara historis perkembangan agama Islam tidak dapat dilepaskan dari peran seorang kiai. Kiai merupakan gelar yang diberikan masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau yang menjadi pemimpin.

kecukupan atau menengah kebawah. Semasa kecil Pak Yai Mus hanya diasuh oleh seorang ibu dikarenakan bapak Pak Yai Mus terkena sihir (ilmu ghoib) dari masyarakat setempat lalu ia pergi merantau di Pondok Pesantren Tebuireng untuk mengobati dan memperdalam ilmu agamanya. Pak Yai Mus hanya memahami ilmu agama dan ilmu-ilmu umum yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Saat itu, ia memulai sekolah pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Banyuwangi.1 Setelah selesai sekolah Madrasah Ibtidaiyah ia melanjutkan sekolah pendidikan di Madrasah Tsanawiyah. Selama proses Ketika menginjak masa remaja Pak yai Mus memulai mendalami ilmu agamanya dari beberapa pondok pesantren yang ia datangi seperti Pondok Lirboyo, Kediri, Pondok di Tulungagung dan Pondok di Madiun. Semasa menuntut ilmu di pondok, ia hanya mendalami kitab Jurumiyah selebihnya Pak yai Mus tabarukan (memperoleh keberkahan) kepada kiai yang mengasuhnya. Kemudian ia berkeinginan mendalami Ilmu Al-Quran di Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem, Bantul yang diasuh oleh K.H Nawawi Abdul Aziz. Ketika K.H. Musthofa menjadi santri K.H Nawawi Abdul Aziz, ia dapat menyelesaikan program Marhalah (tingkatan) Hafidh sampai Qira’ah Snnab’ah. Selama di Pondok pesantren An-Nur Ngrukem Pak yai Mus sangat tawadhu dan nderek (patuh) kepada K.H. Nawawi Abdul Aziz. Setelah menyelesaikan masa menuntut ilmu, Pak yai Mus meminta izin kepada K.H. Abdul Aziz untuk mengajar di pondok pesantren daerah Madiun yang pernah

 

1 Wawancara dengan K.H. Musthofa Gholayin, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman pada hari Senin tanggal 05 Agustus 2019 jam 16:00 di kediamannya

ia tempati. Di tengah proses mengajar, Zarkasyi teman seperjuangan Pak Yai Mus mengenalkan saudarinya bernama Hj. Ratna Nur Ikhsani yang berasal dari Dusun Sorogenen, Sewon, Bantul. Setelah melalui perkenalan Pak Yai Mus menikahi Hj. Ratna Nur Ikhsani pada tahun 1999 ia mulai bertempat tinggal di Dusun Sorogenen. 

ia memulai mendirikan sebuah pondok kecil seperti gubuk yang terbuat dari anyaman bambu untuk tempat tinggal para santrinya. Adapun Peran Pak Yai Mus ketika diawal pendirian pondok yaitu mengajarkan mengaji Al-quran kepada santrinya serta memberikan kajian kitab kuning dengan metode Sorogan dan bandongan.3

3 Wawancara dengan Bu Nyai Hj. Ratna Nur Ikhsani, istri pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman pada hari Selasa tanggal 06 Agustus 2019 jam 15:300 di Aula/Musholla.


Pada tahun 2006 di wilayah Bantul, Yogyakarta terjadi musibah gempa bumi yang berasal dari pantai laut selatan sehingga menyebabkan bangunan menjadi hancur dan roboh, sehingga rumah ndalem dan tempat tinggal santri sedikit mengalami kerusakan. Setelah kejadian tersebut maka pada tahun 2007/2008 Pak Yai Mus mulai berpindah lokasi yang jaraknya tidak jauh dari tempat sebelumnya, hanya dibatasi oleh persawahan. Saat itu, ia mulai membangun sebuah rumah ndalem, asrama, dan aula musholla.4  Selanjutnya ia mendirikan sebuah lembaga pendidikan dimulai dari Paud Mutiara Hati Nurul Iman dan Sekolah menengah Pertama (SMP) Ma’arif Nurul Iman. Pada tahun 2010 Pak Yai ingin mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) akan tetapi, belum ada legalitas berbasis yayasan. Kemudian Pak Yai Mus dan Pak Ratimin selaku guru pengajar di SMP Ma’arif Nurul Iman membangun sebuah Yayasan Sosial dan Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Iman.5 Setelah proses tersebut dilakukan lalu, SMK Nurul Iman didirikan yakni pada tahun 2012 bersamaan dengan pendirian lembaga.

pendidikan non formal yaitu Madrasah Diniyah Al-Furqon II. Kemudian tahun 2014 Pak Yai Mus mendirikan TK/TPA Al-Furqon II.6

4 Wawancara dengan Bu Nyai Hj. Ratna Nur Ikhsani, istri pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman pada hari Selasa tanggal 06 Agustus 2019 jam 15:300 di Aula/Musholla.

5 Wawancara dengan Pak Ratimin selaku kepala sekolah SMK Nurul Iman dan sekertaris Yayasan Sosial dan Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Iman, pada hari Senin tanggal 19 Agustus 2019, bertempat ruangan kepala sekolah SMK Nurul Iman

6 Wawancara dengan Didik Saepudin, S.TH.i, selaku kepala Madrasah Diniyah Al- Furqon II Pondok Pesantren Nurul Iman, pada hari Rabu tanggal 14 Agustus 2019, bertempat di Kedai Barrak & Gallery Coffe





Minggu, 03 Maret 2024

Filosofi Tari Sufi




Pendahuluan

Tari Sufi adalah bentuk ekspresi spiritual yang berasal dari tradisi tasawuf, khususnya dari ordo Mevlevi yang berdiri di wilayah Turki pada abad ke-13. Tarian ini dikenal pula sebagai sema, sebuah praktik meditatif dan ritual mistik yang melibatkan gerakan berputar secara terus-menerus dengan arah berlawanan jarum jam—searah dengan rotasi bulan mengelilingi bumi. Praktik ini pertama kali dikenalkan dan dipopulerkan oleh Jalaluddin Rumi, seorang sufi besar, penyair, dan cendekiawan asal Persia yang hidup pada abad ke-13.

Makna dan Simbolisme Tari Sufi

Tari Sufi bukan sekadar pertunjukan estetika, melainkan wujud kontemplasi dan pendekatan kepada Yang Maha Esa. Setiap unsur dalam tarian ini memiliki makna simbolis yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai sufistik seperti kerendahan hati, ketundukan, cinta ilahiah, dan transformasi spiritual. Kostum penari sufi pun sarat makna—jubah panjang (disebut tennure) melambangkan kain kafan, sedangkan ikat kepala (disebut sikke) melambangkan batu nisan, sebagai simbol kematian ego atau nafs.



Filosofi Gerakan Tari Sufi

Berikut ini penjabaran filosofis dari beberapa gerakan utama dalam Tari Sufi.

1. Tumit Kaki Kiri sebagai Titik Pusat Putaran

Gerakan memutar tubuh dilakukan dengan menjadikan tumit kaki kiri sebagai poros. Filosofinya mencerminkan keteguhan iman manusia yang tidak tergoyahkan oleh dunia. Di tengah pusaran kehidupan, seorang sufi tetap bersandar pada satu titik keyakinan yang mutlak: Allah sebagai pusat orientasi spiritual.

2. Menunduk dan Kedua Tangan Menyilang di Dada

Sebelum mulai berputar, penari akan menundukkan kepala dan menyilangkan kedua tangan di dada. Gerakan ini melambangkan penyerahan total dan kerendahan hati. Ungkapan sufistik yang menyertainya ialah: “Dari sekian banyak manusia yang paling rendah, aku berada di bawahnya.” Ini mencerminkan kesadaran spiritual bahwa hakikat seorang hamba adalah hina dan tak memiliki apa-apa di hadapan Sang Pencipta.

3. Kedua Telapak Tangan di Perut

Posisi tangan ini menggambarkan simbolisasi janin dalam kandungan. Gerakan ini melambangkan kemurnian, awal penciptaan, serta kembalinya manusia ke fitrah sebagai makhluk yang lemah dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Ini merupakan tahapan tajrid, yakni pemurnian diri dari segala bentuk pengaruh duniawi.

4. Tangan Kanan Terangkat ke Atas

Saat mulai berputar, tangan kanan penari biasanya mengarah ke atas. Filosofi dari gerakan ini adalah permohonan kepada Allah: meminta pertolongan, pengampunan, serta limpahan hidayah dan cinta Ilahi. Tangan kanan menjadi simbol keterbukaan manusia terhadap energi spiritual dari langit.

5. Tangan Kiri Mengarah ke Bawah

Sebaliknya, tangan kiri penari mengarah ke bawah, melambangkan pemberian tanpa pamrih. Maknanya: apa pun kebaikan yang diperoleh dari Tuhan harus disebarkan kepada makhluk di bumi tanpa mengharapkan balasan. Ini adalah praktik nyata dari kasih sayang universal (rahmatan lil ‘alamin).

6. Urutan Keseluruhan Gerakan

Rangkaian gerakan Tari Sufi dimulai dengan menundukkan badan dari pinggang hingga kepala, dengan tangan menyilang di dada sebagai lambang ketundukan. Kemudian kedua tangan berada di perut sebagai simbol fitrah. Setelah itu, saat mulai berputar, tangan kanan diangkat ke atas dan tangan kiri mengarah ke bawah, menciptakan poros gerak vertikal antara langit dan bumi. Seluruh gerakan diatur secara harmonis untuk membantu penari masuk ke dalam kondisi wajd (ekstase spiritual).

Penutup

Tari Sufi adalah representasi dari perjalanan batin manusia dalam mencari dan menyatu dengan Sang Pencipta. Lewat gerakan yang repetitif dan simbolik, penari sufi melampaui batas-batas fisik untuk meraih kesadaran transendental. Dalam setiap putaran, mereka tidak sekadar menari, tetapi sedang melakukan zikir dalam bentuk gerak, menjadikan tubuh sebagai media kontemplasi dan cinta Ilahi. Maka, Tari Sufi bukanlah sekadar kesenian, tetapi jalan spiritual yang menghantarkan manusia menuju keheningan dan kehadiran Tuhan dalam batinnya.




Filsafat, Sastra, Sikologi, Politik, Dan Lain-Lain

MENELUSURI MAKNA BATIN DALAM SHOLAWAT TARHIM KARYA SYEKH MAHMUD KHALIL AL-HUSSARY PERSPEKTIF HERMENEUTIKA SPIRITUAL

https://images.app.goo.gl/qK9ikfrS573EoYht7 Penulis: Muhamad Zafron Wasiq Nuristafilosofi.com Sudah tidak asing lagi bagi kita jika mendeng...