https://images.app.goo.gl/qK9ikfrS573EoYht7
Penulis: Muhamad Zafron Wasiq
Nuristafilosofi.com Sudah tidak asing lagi bagi kita jika mendengar istilah sholawat tarhim. Lantunan sholawat ini sering sekali kita dengar setiap kali ingin memasuki waktu sholat subuh atau magrib. Pelantunan sholawat ini di Indonesia memiliki Sejarah yang begitu Panjang. Namun disini penulis tidak akan membahas Sejarah masuk dan populernya sholawat tarhim di Indonesia. Sholawat ini pertama di lantunkan oleh Syekh Mahmud Khalil Al-Hussary. Beliau merupakan seorang qori ternama lulusan al-Azhar. Beliau juga merupakan ketua Jam'iyatul Qurra' wal Huffadz di Mesir (organisasi penghafal Al-Qur'an). Beliau lahir di Tanta, Mesir pada tahun 1917 dan wafat di Kairo pada tahun 1980.
Dilihat dari segi bahasa, sholawat tarhim terdiri dari dua suku kata, yaitu kata “sholawat” dan kata “tarhim”. Kata tarhim sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu dari akar kata "رحم" (rahma), yang berarti "belas kasih" atau "kasih sayang". Lebih umumnya masyarakat Indonesia memaknai sebagai seruan menjelang waktu shalat magrib atau subuh. Dalam Jurnal Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 2 Nomor 2 (2019) terbitan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menjelaskan bahwa tarhim bisa berupa bacaan ayat Al-Qur’an, sholawat, puji-pujian, atau doa-doa.
Sedangkan makna kata sholawat sendiri pada dasarnya merupakan bentuk pujian dan kalimat penghormatan kepada Rasulullah Saw. Mengenai sholawat sendiri, umat islam sangat dianjurkan melantunkannya. Bahkan sholawat merupakan salah satu kalimat yang special. Dalam QS. Al-Ahzab ayat 56 dijelaskan bahwa “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”. Bahkan sholawat merupakan salah satu rukun di dalam shalat.
Di Indonesia sendiri sholawat tarhim merujuk pada lantunan sholawat yang di lantunkan oleh Syekh Mahmud Khalil Al-Hussary. Lantunan sholawat ini sering terdengar di surau-surau ketika menjelang waktu shalat Magrib dan Subuh. Untuk lirik dari sholawat ini sebagai berikut:
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ الله • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَامَنْ اَسْرَى بِكَ مُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ ۞ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامْ وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا وَ سَمِعْتَ نِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامْ ۞ يَا كَرِمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞ صَلىَ اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَ عَلىَ عَلِكَ وَ اَصْحَابِكَ أجْمَعِيْنَ۞
Artinya: “Sholawat dan salam semoga dilimpahkan padamu wahai pemimpin para pejuang, Yaa Rasulullah, sholawat serta salam semoga diberikan kepadamu wahai penuntun petunjuk Ilahi, wahau makhluk yang paling baik, sholawat dan salam semoga tercurahkan atasmu, Wahai penolong kebenaran, Ya Rasulullah, sholawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu. Duhai Yang Memperjalankanmu pada malam hari, Dialah Yang Maha Melindungi, Kau memperoleh apa yang engkau dapat sedangkan seluruh manusia tidur, Dibelakangmu ada semua penghuni langit saat mengerjakan salat dan engkau jadi imam, Kau diberangkatkan menuju Sidratul Muntaha sebab kemulianmu, Dan suara ucapan salam atasmu kau dengar. Wahai yang sangat mulia akhlaknya, Ya Rasulullah, Semoga sholawat selalu dilimpahkan kepadamu, untuk keluarga dan sahabatmu,”
Dapat kita lihat dari lirik sholawat tersebut banyak berisi sanjungan atau pujian terhadap Rasulullah Saw. Disini penulis melihat adanya rasa cinta yang mendalam dari Syekh Mahmud Khalil Al-Hussary terhadap Rasulullah Saw. Kita tidak dapat mengelak, bahwasanya jika kita mencintai sesuatu atau seseorang kita pasti sering menyanjung-nyanjungnya. Namun lebih dalam lagi, mencintai juga bisa diartikan sebagai rasa rindu yang mendalam pada sesuatu atau seseorang.
Tentang Cinta
Rabi’ah al-Adawiyah dalam perjalanan spiritualnya, ia membagi makna cinta menjadi dua, yaitu cinta rindu dan cinta karena layak dicintai. Kita garis bawahi makna cinta yang pertama, yaitu cinta rindu. Makna cinta ini ia dapat ketika ia dalan perjalanan mengenal Tuhan. Ia menempatkan Tuhan sebagai Kekasih yang ia dan Tuhan saling merindukan. Hal ini dapat kita lihat dalam salah satu syairnya yang berbunyi “ya Allah, segala usahaku dan segala keinginanku di antara kenikmatan kenikmatan dunia adalah untuk mengingat-Mu. Dan di akhirat, di antara segala kenikmatan akhirat, adalah bertemu dengan-Mu. Demikianlah dengan diriku, sebagaimana telah kukatakan. Kini perbuatlah sesuai yang Engkau kehendaki”.
Menurutnya mencintai Tuhan merupakan maqom tertinggi dan cinta menjadi penggerak pikiran, perasaan, perkataan serta amal perbuatan. Maka daripada itu menurutnya dalam menyembah Tuhan haruslah berdasarkan atas cinta (cinta Ilahi). Kita menyembah Tuhan bukan karena kita takut terhadap siksanya ataupun mengharap imbalannya, namun kita menyembah Tuhan karena kita mencintai Tuhan. Dalam arti yang lebih singkat menurut Rabi’ah bahwa beribadah bukanlah didasari takut akan neraka sekaligus mengharap akan surga, melainkan terlebih dengan cinta. Hal ini dapat dipahami jika beribadah untuk mencari pahala, maka hubungan dengan Tuhan menjadi transaksional.
Sedikit Pengenalan Terhadap Hermeneutika Spiritual
Supaya kita dapat mengetahui makna dalam suatu teks, kita perlu alat yang namanya hermeneutika. Hermeneutika adalah sebuah alat untuk memahami teks. Teks disini tidak sebatas tulisan di atas kertas. Namun bisa berupa persepsi seseorang atau bisa juga suatu kejadian alam.
Lebih lanjutnya untuk memahami makna spiritual di dalam teks, seperti contohnya lantunan sholawat tarhim diatas, kita memerlukan alat yang namanya hermeneutika spiritual. Lebih spesifik lagi, hermeneutika spiritual ini ia berfungsi mencari makna spiritual/batiniah di dalam suatu teks.
Mencari Makna Batiniah di Dalam Sholawat Tarhim
Kita lihat kembali lirik sholawat tarhim di atas, dimana liriknya mengandung banyak sanjungan terhadap Rasulullah Saw. Seperti yang penulis katakana di atas, seseorang yang sedang mencintai sesuatu atau seseorang pasti ia sering menyanjung-nyanjung hal yang dicintaianya. Begitu juga mengenai cinta yang penulis bahas diatas menggunakan sudut pandang sufistik Rabi’ah al-Adawiyah bahwasanya makna cinta bisa dikatakan sebagai rindu yang mendalam.
Dalam hal sholawat tarhim yang di lantunkan Syekh Mahmud Khalil Al-Hussary, kita dapat melihat benih-benih kerinduan beliau terhadap Rasulullah Saw. Selain beliau kita sebagai umatnya haruslah merindukan Rasulullah Saw. Karena beliau merupakan sosok makhluk yang patut dirindukan. Dalam kata lain sholawat juga dapat kita maknai sebagai rasa rindu kita terhadap Rasulullah Saw.
Sedikit Kesimpulan
Dapat kita katakana sholawat tarhim, bukan hanya seruan menjelang waktu sholat magrib atau subuh. Melainkan sebuah seruan kerinduan kita terhadap Rasulullah Saw. Dapat kita katakana bahwa bersholawat bukan hanya mengagungkan atau mengharap syafa’at Rasulullah Saw, melainkan juga rasa rindu kita terhadap Rasulullah Saw. Yang dimana kita sebagai umatnya pasti ingin sekali bertemu dengan Rasulullah Saw.
Referensi:
Sapto Wardana. dkk, (2024), Analisis Bentuk Dan Maqom Sholawat Tarhim Di Masjid Jami’ Assagaf, Pasar Kliwon, Surakarta, Jurnal Kajian Seni, 10 (2), 200-202.
Doi: https://doi.org/10.22146/jksks.95380
Panshaiskpradi, (2019), Resepsi Khalayak Mengenai Tarhim. Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, 2 (2), 183-185.
DOI: https://doi.org/10.15575/cjik.v2i2.4966
Za’in Fiqron, M., Dwi Parawati, E., (2023), Relevansi Tasawuf Cinta Ilahi Rabi’ah al-Adawiyah terhadap Problem Radikalisme Beragama di Indonesia, Jurnal: Hikamia, 3 (2), 79-80.
Doi: https://doi.org/10.58572/hkm.v3i2.26

Tidak ada komentar:
Posting Komentar