Rabu, 04 Juni 2025

MENELUSURI MAKNA BATIN DALAM SHOLAWAT TARHIM KARYA SYEKH MAHMUD KHALIL AL-HUSSARY PERSPEKTIF HERMENEUTIKA SPIRITUAL



https://images.app.goo.gl/qK9ikfrS573EoYht7

Penulis: Muhamad Zafron Wasiq

Nuristafilosofi.com Sudah tidak asing lagi bagi kita jika mendengar istilah sholawat tarhim. Lantunan sholawat ini sering sekali kita dengar setiap kali ingin memasuki waktu sholat subuh atau magrib. Pelantunan sholawat ini di Indonesia memiliki Sejarah yang begitu Panjang. Namun disini penulis tidak akan membahas Sejarah masuk dan populernya sholawat tarhim di Indonesia. Sholawat ini pertama di lantunkan oleh Syekh Mahmud Khalil Al-Hussary. Beliau merupakan seorang qori ternama lulusan al-Azhar. Beliau juga merupakan ketua Jam'iyatul Qurra' wal Huffadz di Mesir (organisasi penghafal Al-Qur'an). Beliau lahir di Tanta, Mesir pada tahun 1917 dan wafat di Kairo pada tahun 1980.

Dilihat dari segi bahasa, sholawat tarhim terdiri dari dua suku kata, yaitu kata “sholawat” dan kata “tarhim”. Kata tarhim sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu dari akar kata "رحم" (rahma), yang berarti "belas kasih" atau "kasih sayang". Lebih umumnya masyarakat Indonesia memaknai sebagai seruan menjelang waktu shalat magrib atau subuh. Dalam Jurnal Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 2 Nomor 2 (2019) terbitan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menjelaskan bahwa tarhim bisa berupa bacaan ayat Al-Qur’an, sholawat, puji-pujian, atau doa-doa.

Sedangkan makna kata sholawat sendiri pada dasarnya merupakan bentuk pujian dan kalimat penghormatan kepada Rasulullah Saw. Mengenai sholawat sendiri, umat islam sangat dianjurkan melantunkannya. Bahkan sholawat merupakan salah satu kalimat yang special. Dalam QS. Al-Ahzab ayat 56 dijelaskan bahwa “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”. Bahkan sholawat merupakan salah satu rukun di dalam shalat.

Di Indonesia sendiri sholawat tarhim merujuk pada lantunan sholawat yang di lantunkan oleh Syekh Mahmud Khalil Al-Hussary. Lantunan sholawat ini sering terdengar di surau-surau ketika menjelang waktu shalat Magrib dan Subuh. Untuk lirik dari sholawat ini sebagai berikut:

الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ الله • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَامَنْ اَسْرَى بِكَ مُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ ۞ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامْ وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا وَ سَمِعْتَ نِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامْ ۞ يَا كَرِمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞ صَلىَ اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَ عَلىَ عَلِكَ وَ اَصْحَابِكَ أجْمَعِيْنَ۞

Artinya: “Sholawat dan salam semoga dilimpahkan padamu wahai pemimpin para pejuang, Yaa Rasulullah, sholawat serta salam semoga diberikan kepadamu wahai penuntun petunjuk Ilahi, wahau makhluk yang paling baik, sholawat dan salam semoga tercurahkan atasmu, Wahai penolong kebenaran, Ya Rasulullah, sholawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu. Duhai Yang Memperjalankanmu pada malam hari, Dialah Yang Maha Melindungi, Kau memperoleh apa yang engkau dapat sedangkan seluruh manusia tidur, Dibelakangmu ada semua penghuni langit saat mengerjakan salat dan engkau jadi imam, Kau diberangkatkan menuju Sidratul Muntaha sebab kemulianmu, Dan suara ucapan salam atasmu kau dengar. Wahai yang sangat mulia akhlaknya, Ya Rasulullah, Semoga sholawat selalu dilimpahkan kepadamu, untuk keluarga dan sahabatmu,”

Dapat kita lihat dari lirik sholawat tersebut banyak berisi sanjungan atau pujian terhadap Rasulullah Saw. Disini penulis melihat adanya rasa cinta yang mendalam dari Syekh Mahmud Khalil Al-Hussary terhadap Rasulullah Saw. Kita tidak dapat mengelak, bahwasanya jika kita mencintai sesuatu atau seseorang kita pasti sering menyanjung-nyanjungnya. Namun lebih dalam lagi, mencintai juga bisa diartikan sebagai rasa rindu yang mendalam pada sesuatu atau seseorang.

Tentang Cinta

Rabi’ah al-Adawiyah dalam perjalanan spiritualnya, ia membagi makna cinta menjadi dua, yaitu cinta rindu dan cinta karena layak dicintai. Kita garis bawahi makna cinta yang pertama, yaitu cinta rindu. Makna cinta ini ia dapat ketika ia dalan perjalanan mengenal Tuhan. Ia menempatkan Tuhan sebagai Kekasih yang ia dan Tuhan saling merindukan. Hal ini dapat kita lihat dalam salah satu syairnya yang berbunyi “ya Allah, segala usahaku dan segala keinginanku di antara kenikmatan kenikmatan dunia adalah untuk mengingat-Mu. Dan di akhirat, di antara segala kenikmatan akhirat, adalah bertemu dengan-Mu. Demikianlah dengan diriku, sebagaimana telah kukatakan. Kini perbuatlah sesuai yang Engkau kehendaki”.

Menurutnya mencintai Tuhan merupakan maqom tertinggi dan cinta menjadi penggerak pikiran, perasaan, perkataan serta amal perbuatan. Maka daripada itu menurutnya dalam menyembah Tuhan haruslah berdasarkan atas cinta (cinta Ilahi). Kita menyembah Tuhan bukan karena kita takut terhadap siksanya ataupun mengharap imbalannya, namun kita menyembah Tuhan karena kita mencintai Tuhan. Dalam arti yang lebih singkat menurut Rabi’ah bahwa beribadah bukanlah didasari takut akan neraka sekaligus mengharap akan surga, melainkan terlebih dengan cinta. Hal ini dapat dipahami jika beribadah untuk mencari pahala, maka hubungan dengan Tuhan menjadi transaksional.

Sedikit Pengenalan Terhadap Hermeneutika Spiritual

Supaya kita dapat mengetahui makna dalam suatu teks, kita perlu alat yang namanya hermeneutika. Hermeneutika adalah sebuah alat untuk memahami teks. Teks disini tidak sebatas tulisan di atas kertas. Namun bisa berupa persepsi seseorang atau bisa juga suatu kejadian alam.

Lebih lanjutnya untuk memahami makna spiritual di dalam teks, seperti contohnya lantunan sholawat tarhim diatas, kita memerlukan alat yang namanya hermeneutika spiritual. Lebih spesifik lagi, hermeneutika spiritual ini ia berfungsi mencari makna spiritual/batiniah di dalam suatu teks.

Mencari Makna Batiniah di Dalam Sholawat Tarhim

Kita lihat kembali lirik sholawat tarhim di atas, dimana liriknya mengandung banyak sanjungan terhadap Rasulullah Saw. Seperti yang penulis katakana di atas, seseorang yang sedang mencintai sesuatu atau seseorang pasti ia sering menyanjung-nyanjung hal yang dicintaianya. Begitu juga mengenai cinta yang penulis bahas diatas menggunakan sudut pandang sufistik Rabi’ah al-Adawiyah bahwasanya makna cinta bisa dikatakan sebagai rindu yang mendalam.

Dalam hal sholawat tarhim yang di lantunkan Syekh Mahmud Khalil Al-Hussary, kita dapat melihat benih-benih kerinduan beliau terhadap Rasulullah Saw. Selain beliau kita sebagai umatnya haruslah merindukan Rasulullah Saw. Karena beliau merupakan sosok makhluk yang patut dirindukan. Dalam kata lain sholawat juga dapat kita maknai sebagai rasa rindu kita terhadap Rasulullah Saw.

Sedikit Kesimpulan

Dapat kita katakana sholawat tarhim, bukan hanya seruan menjelang waktu sholat magrib atau subuh. Melainkan sebuah seruan kerinduan kita terhadap Rasulullah Saw. Dapat kita katakana bahwa bersholawat bukan hanya mengagungkan atau mengharap syafa’at Rasulullah Saw, melainkan juga rasa rindu kita terhadap Rasulullah Saw. Yang dimana kita sebagai umatnya pasti ingin sekali bertemu dengan Rasulullah Saw.

Referensi:

Sapto Wardana. dkk, (2024), Analisis Bentuk Dan Maqom Sholawat Tarhim Di Masjid Jami’ Assagaf, Pasar Kliwon, Surakarta, Jurnal Kajian Seni, 10 (2), 200-202.

Doi: https://doi.org/10.22146/jksks.95380

Panshaiskpradi, (2019), Resepsi Khalayak Mengenai Tarhim. Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, 2 (2), 183-185.

DOI: https://doi.org/10.15575/cjik.v2i2.4966

Za’in Fiqron, M., Dwi Parawati, E., (2023), Relevansi Tasawuf Cinta Ilahi Rabi’ah al-Adawiyah terhadap Problem Radikalisme Beragama di Indonesia, Jurnal: Hikamia, 3 (2), 79-80.

Doi: https://doi.org/10.58572/hkm.v3i2.26


Minggu, 01 Juni 2025

Apakah Perempuan Pantas Untuk Memimpin, Menurut Gus Baha Dalam Kacamata Hermeneutika Spritual

 

 tentang memilih pemimpin Kitab Jauharoh At Tauhid

 


 Penulis: Farabi Alfa Bianus

Pendahuluan          

Dalam sejarah panjang penafsiran Islam, tema kepemimpinan sering kali dikaitkan dengan struktur hierarkis dan patriarkal, yang menempatkan laki-laki sebagai pemimpin dalam berbagai dimensi kehidupan sosial dan keluarga. Dominasi penafsiran ini umumnya mengacu pada QS. An-Nisa: 34, yang berbunyi:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُۗ وَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًاۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا

        "Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, berilah mereka nasihat, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu,) pukullah mereka (dengan cara yang tidak menyakitkan). Akan tetapi, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.

        Tafsir klasik seperti karya Ibnu Katsir dan tafsir kontemporer seperti Al-Misbah oleh M. Quraish Shihab umumnya memahami ayat ini secara literal dalam konteks tanggung jawab finansial dan sosial laki-laki terhadap perempuan. Namun demikian, pendekatan ini—meskipun memiliki landasan dalam fiqh dan realitas historis—tidak dapat berdiri sendiri jika tidak dilengkapi dengan pendekatan hermeneutika spiritual, yang menekankan dimensi batiniah, keadilan ilahiah, dan hikmah universal dari teks-teks suci.

                               

                                  

Pandangan Gus Baha Terhadap Kepemimpinan Perempuan

 

  Salah satu tokoh yang menyuarakan pendekatan kontekstual, inklusif, dan mendalam dalam menafsirkan teks adalah KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Dalam berbagai pengajiannya, Gus Baha menekankan bahwa teks agama bukan untuk mendominasi, tapi untuk membawa kemaslahatan, keadilan, dan keberkahan. Hal ini sangat penting untuk membingkai ulang diskursus kepemimpinan perempuan dalam Islam.

 

Hermeneutika Spiritual: Jalan Menuju Keadilan Batiniah

        Hermeneutika spiritual adalah pendekatan tafsir yang tidak hanya bertumpu pada makna literal dan historis teks, tetapi menggali makna esoterik, simbolis, dan transformatif. Ia berpijak pada keyakinan bahwa wahyu ilahi tidak pernah membelenggu jiwa, melainkan membebaskannya menuju kebenaran hakiki.

        Metode ini berlandaskan pada:

  1. Pemahaman batiniah dan keterbukaan terhadap dimensi transendental.

  2. Simbolisme dan alegori sebagai jembatan makna antara dunia zahir dan batin.

  3. Transformasi diri sebagai tujuan utama tafsir, bukan sekadar reproduksi hukum.

  4. Pencarian nilai universal dan abadi, bukan eksklusif dan historis semata.

        Dalam kerangka ini, ayat-ayat seperti QS. An-Nisa: 34 tidak boleh dipahami secara terisolasi, melainkan harus dilihat sebagai bagian dari misi etis dan spiritual Islam untuk menegakkan keadilan dan mengangkat martabat manusia, termasuk perempuan.

 

Gus Baha dan Pendekatan Hikmah dalam Kepemimpinan

        Gus Baha dalam ceramahnya yang diunggah melalui kanal YouTube Santri Gayeng, menyatakan bahwa Islam tidak pernah mengharamkan perempuan untuk menjadi pemimpin selama kepemimpinan itu membawa keadilan dan maslahat. Ia menyatakan:

"Jangan baca ayat-ayat secara saklek... lihatlah maslahatnya, hikmahnya. Dalam banyak hal, perempuan lebih lembut, lebih penyayang, dan lebih bisa memahami kebutuhan sosial."

Pendekatan Gus Baha sangat sejalan dengan hermeneutika spiritual, karena menolak pembacaan yang rigid, kaku, dan bias gender. Beliau juga sering mengingatkan bahwa:

"Nabi tidak hanya datang membawa hukum, tapi membawa rahmat."
(Lihat QS. Al-Anbiya: 107)

"وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ"

        Jika kenabian itu rahmat, maka semua konsekuensi dari ajaran beliau, termasuk struktur sosial dan kepemimpinan, harus selaras dengan nilai rahmat, bukan diskriminasi.

 

Dalil yang Mendukung Kepemimpinan Perempuan

        Meski sering dibenturkan dengan hadis “tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan” (HR. Bukhari), perlu diingat bahwa hadis ini keluar dalam konteks politik dinasti Persia, bukan sebagai kaidah umum. Banyak ulama seperti Imam Nawawi dan Ibn Hajar menyatakan bahwa hadis ini kontekstual dan tidak universal. Sebaliknya, terdapat banyak teks yang justru memberi ruang besar bagi perempuan untuk tampil memimpin:

  1. Ratu Saba’ (Balqis) dalam QS. An-Naml: 23-44, yang disebut sebagai pemimpin yang adil, bijak, dan mampu berdialog secara rasional dengan Nabi Sulaiman. Allah tidak mengkritik kepemimpinannya, bahkan menampilkannya dengan penuh pujian.

  2. Hadis tentang Sayyidah Aisyah, pemimpin intelektual dan mujtahidah besar yang menjadi sumber ilmu bagi para sahabat.

  3. Ummu Salamah, istri Nabi, yang pendapatnya diikuti Rasul ketika para sahabat ragu-ragu dalam perjanjian Hudaibiyah.

  4. Khadijah ra., pebisnis, pengambil keputusan, dan tokoh strategis dalam dakwah awal Islam.

Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah menyebut manusia secara umum sebagai khalifah, tanpa membedakan jenis kelamin: (QS. Al-Baqarah: 30)

"إني جاعلٌ في الأرض خليفة"


"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."

 

 Melampaui Tafsir Normatif: Menuju Makna Transendental

        Tafsir normatif dan fiqh klasik memang sering menyatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin perempuan, tetapi hermeneutika spiritual mengajak kita untuk melihat apakah struktur itu masih relevan dengan prinsip keadilan dan rahmat ilahi hari ini. Dalam konteks sosial yang telah berubah, Gus Baha menegaskan pentingnya ijtihad baru yang tidak memberangus potensi perempuan hanya karena teks literal. Ia berkata:

"Dalam banyak hal perempuan lebih kuat menahan emosi, lebih teliti, dan lebih sabar. Maka, tidak logis jika semua keputusan hanya boleh dipegang laki-laki."

 

Kesimpulan

Jika kita gabungkan pendekatan hermeneutika spiritual dan hikmah Gus Baha, maka menjadi jelas bahwa kepemimpinan dalam Islam tidak boleh direduksi hanya pada jenis kelamin, tetapi harus bertumpu pada keadilan, keberkahan, kemaslahatan, dan nilai ilahi. Perempuan memiliki hak untuk menjadi pemimpin, selama ia memiliki kompetensi, integritas, dan kemampuan untuk membawa kebaikan dan keadilan. Melalui pembacaan batiniah terhadap teks, dan pemahaman kontekstual atas sabda Nabi serta praktik para sahabat, kita menemukan bahwa Islam adalah agama yang memuliakan perempuan dan memberi mereka tempat yang tinggi dalam semua aspek kehidupan, termasuk kepemimpinan.

 

Daftar Pustaka

  1. Gus Baha. Pandangan Gus Baha Tentang memilih pemimpin kitab Jauharoh At Tauhid . Video ceramah. Kanal YouTube: SANTRI GAYENG https://youtu.be/1R1qDy-RhwU?si=z7zP_WBIsLjIVxTq
  1. Abu Zayd, Nasr Hamid. Mafhūm al-Naṣṣ: Dirāsah fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Beirut: Al-Markaz al-Tsaqāfī al-‘Arabī, 1990.
  2. Al-Qur’an al-Karim. Terjemah Departemen Agama Republik Indonesia.

  3. Gus Baha. Pandangan Gus Baha Tentang Pemimpin Perempuan. Video ceramah. Kanal YouTube: SANTRI GAYENG.  https://youtu.be/iuPtm3FbQ9s?si=k0LCqGdVoZrJOIzF 

  4. Ibn Kathir. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Beirut: Dar al-Fikr, 2000.

  5. M. Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur'an. Jakarta: Lentera Hati, 2005.

  6. Mulia, Siti Musdah. Islam Menggugat Poligami. Jakarta: Kompas, 2004.

  7. Nasr, Seyyed Hossein. The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity. New York: HarperOne, 2002.

  8. Shihab, M. Quraish. Perempuan: Dari Cinta hingga Seks, dari Nikah Mut’ah hingga Nikah Sunnah. Jakarta: Lentera Hati, 2005.

  9. Wadud, Amina. Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective. New York: Oxford University Press, 1999.

  10. Yusuf al-Qaradawi. Fatawa Mu‘asirah. Kairo: Dar al-Shuruq, 1998.


Filsafat, Sastra, Sikologi, Politik, Dan Lain-Lain

MENELUSURI MAKNA BATIN DALAM SHOLAWAT TARHIM KARYA SYEKH MAHMUD KHALIL AL-HUSSARY PERSPEKTIF HERMENEUTIKA SPIRITUAL

https://images.app.goo.gl/qK9ikfrS573EoYht7 Penulis: Muhamad Zafron Wasiq Nuristafilosofi.com Sudah tidak asing lagi bagi kita jika mendeng...