Jumat, 15 Maret 2024

Pendidikan karakter dan program Tahfiz SMP Al-Ma’arif Bantul





Oleh: Farabi Alfa Bianus dan Ahmad Nur Hidayat

Nuristafilosofi.com Pendidikan karakter merupakan aspek penting dalam sistem pendidikan Indonesia. Sejak awal kemerdekaan, pemerintah telah mencanangkan pembangunan karakter bangsa melalui dunia pendidikan. Namun, implementasinya baru tampak secara nyata setelah tahun 1960-an, ketika pendidikan budi pekerti mulai dimasukkan secara eksplisit ke dalam kurikulum. Seiring waktu, mata pelajaran seperti agama, seni, dan olahraga pun turut diakui sebagai sarana pembentukan watak dan moral generasi muda.

Salah satu wujud nyata pendidikan karakter saat ini adalah integrasi program tahfiz Al-Qur’an di sekolah-sekolah formal. Program ini tidak hanya bertujuan mencetak penghafal Al-Qur’an, tetapi juga membentuk siswa yang memiliki akhlak mulia dan kecintaan terhadap nilai-nilai keagamaan. Salah satu sekolah yang telah mengembangkan program ini adalah SMP Al-Ma’arif Bantul, yang terletak di lingkungan pesantren dan berdiri sejak tahun 1996.

Program tahfiz di SMP Al-Ma’arif Bantul mulai dijalankan secara resmi pada tahun 2021. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari ekstrakurikuler setiap hari Sabtu. Meskipun berada di lembaga formal, program tahfiz di sekolah ini tetap menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang lazim digunakan di pesantren, seperti pembiasaan membaca Al-Qur’an, pelatihan tajwid, dan pelatihan makhrajul huruf. Tidak hanya itu, para pembimbing juga menekankan pembentukan adab, etika, dan moral peserta didik.

Menurut hasil riset yang dilakukan oleh Rakhmat (2020) dalam jurnal Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam, metode-metode tahfiz yang efektif di sekolah antara lain adalah:

  1. Metode Tikrar (pengulangan ayat): peserta didik mengulang ayat minimal 10–20 kali agar lebih tertanam dalam ingatan.
  2. Metode Talaqqi dan Tasmi’: murid menyetorkan hafalan langsung kepada guru dengan bimbingan tajwid.
  3. Metode Muroja’ah Terjadwal: hafalan lama diulang secara rutin dengan jadwal yang terstruktur.
  4. Metode visualisasi dan pemetaan ayat: membantu mengaitkan ayat dengan makna dan susunannya.

Sebagian dari pendekatan tersebut telah diadopsi oleh SMP Al-Ma’arif Bantul, meskipun dalam skala yang disesuaikan dengan kapasitas sekolah dan latar belakang siswa yang sebagian besar berasal dari masyarakat desa. Program ini dirancang agar siswa tidak hanya mampu menghafal, tetapi juga memahami dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala sekolah SMP Al-Ma’arif Bantul, Bapak Abdul Ghoni, S.Ag., menyampaikan bahwa program tahfiz ini lahir dari keinginan untuk menjadikan sekolah sebagai tempat seimbang antara pendidikan umum dan agama. Ia menekankan pentingnya menjembatani nilai-nilai spiritual ke dalam pendidikan formal agar siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang utuh—cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual.

Penting pula dicatat bahwa keberhasilan program ini tidak terlepas dari peran guru sebagai pembimbing dan teladan. Guru diharapkan tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menjadi inspirasi dan panutan bagi siswa dalam menumbuhkan kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab.

Dengan strategi yang berkelanjutan dan keterlibatan aktif seluruh elemen sekolah, program tahfiz di SMP Al-Ma’arif Bantul menjadi salah satu contoh inovasi pendidikan karakter yang aplikatif dan kontekstual. Di tengah tantangan zaman modern, model pendidikan seperti ini menjadi relevan untuk membentuk generasi muda yang kuat secara moral dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

Daftar Pustaka

  • Jurnal Pendidikan Karakter. (2014). Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun IV, Nomor 3, Oktober.
  • Rakhmat, M. (2020). Efektivitas Program Tahfidzul Qur'an dalam Membentuk Karakter Religius Peserta Didik. Jurnal Tadrib, 6(2), 122-134.
  • Catatan lapangan Farabi Alfa Bianus. Observasi lapangan di SMP Al-Ma’arif Bantul, 14 Oktober 2023.

PERAN K.H. MUSTHOFA GHOLAYIN DALAM PEMBERDAYAAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN NURUL IMAN SOROGENEN BANTUL




PERAN K.H. MUSTHOFA GHOLAYIN DALAM PEMBERDAYAAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN NURUL IMAN SOROGENEN BANTUL 


K.H. Musthofa Gholayin memiliki latar belakang keluarga yang sederhana dengan keterbatasan ekonomi serta pendidikan agama. Semasa kecil, ia hanya mempelajari ilmu agama dan ilmu-ilmu umum dari lingkungan sekitarnya. Setelah selesai pendidikan MI sampai MTS, ia mendalami ilmu agamanya dengan berpindah-pindah pondok pesantren di daerah Jawa Timur hingga pondok terakhir yang ia jejaki yaitu di Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem, Bantul untuk mendalami ilmu al-Qurannya.

Pada tahun 1999, K.H. Musthofa Gholayin mulai merintis Pondok Pesantren Nurul Iman dengan niat menampung serta mendidik anak yatim dan kaum duafa, serta orang yang dianggap kurang bermoral seperti preman. Disamping itu, tahun 2007-2014 K.H. Musthofa mendidirikan sebuah lembaga pendidikan formal seperti SMP Ma’arif Nurul Iman dan SMK Nurul Iman yang dinaungi Yayasan Sosial dan Pendidikan PP Nurul Iman. Adapun pendidikan non formal yaitu PAUD Mutiara Hati, Madrasah Diniyah al- Furqon II, dan TPA al-Furqon II. Tahun 2017-2018, ia mendirikan sebuah usaha untuk mengembangkan jiwa kemandirian santri dalam bidang ekonomi agar menjadi bekal ketika berada di masyarakat.

peran K.H. Musthofa Gholayin dalam bidang pendidikan dan bidang kewirausahaan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian yaitu pendekatan biografi-sosiologi. Adapun teori yang digunakan adalah teori peranan sosial yang dikembangkan oleh Erving Goffman. Inti dari teori peranan sosial yaitu menganalisis suatu peran seseorang yang mempunyai kekuasaan dalam struktur sosialnya yang membawa pengaruh demi terciptanya sebuah tatanan masyarakat stabil. 

Pondok Pesantren Nurul Iman merupakan pondok berbasis Tahfidhul Quran serta memperdayakan santri, yang mana latar belakang santri terdiri Anak yatim dan kaum dhuafa serta orang yang kurang bermoral seperti preman (orang yang terkena pengaruh lingkungan bebas). Adapun gagasan dari K.H. Musthofa Gholayin yaitu membangun jiwa mandiri dan keterampilan dalam bidang enterprenur (pengusaha) dengan tujuan santri memiliki bekal ketika keluar dari pondok dan menjadi panutan masyarakat.



Peran kiyai dalam Pondok pesantren 


fase perkembangan pondok pesantren tidak jauh berbeda dengan lembaga- lembaga lain, bahkan dalam kondisi tertentu bisa jauh lebih maju.

Secara historis perkembangan agama Islam tidak dapat dilepaskan dari peran seorang kiai. Kiai merupakan gelar yang diberikan masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau yang menjadi pemimpin.

kecukupan atau menengah kebawah. Semasa kecil Pak Yai Mus hanya diasuh oleh seorang ibu dikarenakan bapak Pak Yai Mus terkena sihir (ilmu ghoib) dari masyarakat setempat lalu ia pergi merantau di Pondok Pesantren Tebuireng untuk mengobati dan memperdalam ilmu agamanya. Pak Yai Mus hanya memahami ilmu agama dan ilmu-ilmu umum yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Saat itu, ia memulai sekolah pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Banyuwangi.1 Setelah selesai sekolah Madrasah Ibtidaiyah ia melanjutkan sekolah pendidikan di Madrasah Tsanawiyah. Selama proses Ketika menginjak masa remaja Pak yai Mus memulai mendalami ilmu agamanya dari beberapa pondok pesantren yang ia datangi seperti Pondok Lirboyo, Kediri, Pondok di Tulungagung dan Pondok di Madiun. Semasa menuntut ilmu di pondok, ia hanya mendalami kitab Jurumiyah selebihnya Pak yai Mus tabarukan (memperoleh keberkahan) kepada kiai yang mengasuhnya. Kemudian ia berkeinginan mendalami Ilmu Al-Quran di Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem, Bantul yang diasuh oleh K.H Nawawi Abdul Aziz. Ketika K.H. Musthofa menjadi santri K.H Nawawi Abdul Aziz, ia dapat menyelesaikan program Marhalah (tingkatan) Hafidh sampai Qira’ah Snnab’ah. Selama di Pondok pesantren An-Nur Ngrukem Pak yai Mus sangat tawadhu dan nderek (patuh) kepada K.H. Nawawi Abdul Aziz. Setelah menyelesaikan masa menuntut ilmu, Pak yai Mus meminta izin kepada K.H. Abdul Aziz untuk mengajar di pondok pesantren daerah Madiun yang pernah

 

1 Wawancara dengan K.H. Musthofa Gholayin, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman pada hari Senin tanggal 05 Agustus 2019 jam 16:00 di kediamannya

ia tempati. Di tengah proses mengajar, Zarkasyi teman seperjuangan Pak Yai Mus mengenalkan saudarinya bernama Hj. Ratna Nur Ikhsani yang berasal dari Dusun Sorogenen, Sewon, Bantul. Setelah melalui perkenalan Pak Yai Mus menikahi Hj. Ratna Nur Ikhsani pada tahun 1999 ia mulai bertempat tinggal di Dusun Sorogenen. 

ia memulai mendirikan sebuah pondok kecil seperti gubuk yang terbuat dari anyaman bambu untuk tempat tinggal para santrinya. Adapun Peran Pak Yai Mus ketika diawal pendirian pondok yaitu mengajarkan mengaji Al-quran kepada santrinya serta memberikan kajian kitab kuning dengan metode Sorogan dan bandongan.3

3 Wawancara dengan Bu Nyai Hj. Ratna Nur Ikhsani, istri pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman pada hari Selasa tanggal 06 Agustus 2019 jam 15:300 di Aula/Musholla.


Pada tahun 2006 di wilayah Bantul, Yogyakarta terjadi musibah gempa bumi yang berasal dari pantai laut selatan sehingga menyebabkan bangunan menjadi hancur dan roboh, sehingga rumah ndalem dan tempat tinggal santri sedikit mengalami kerusakan. Setelah kejadian tersebut maka pada tahun 2007/2008 Pak Yai Mus mulai berpindah lokasi yang jaraknya tidak jauh dari tempat sebelumnya, hanya dibatasi oleh persawahan. Saat itu, ia mulai membangun sebuah rumah ndalem, asrama, dan aula musholla.4  Selanjutnya ia mendirikan sebuah lembaga pendidikan dimulai dari Paud Mutiara Hati Nurul Iman dan Sekolah menengah Pertama (SMP) Ma’arif Nurul Iman. Pada tahun 2010 Pak Yai ingin mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) akan tetapi, belum ada legalitas berbasis yayasan. Kemudian Pak Yai Mus dan Pak Ratimin selaku guru pengajar di SMP Ma’arif Nurul Iman membangun sebuah Yayasan Sosial dan Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Iman.5 Setelah proses tersebut dilakukan lalu, SMK Nurul Iman didirikan yakni pada tahun 2012 bersamaan dengan pendirian lembaga.

pendidikan non formal yaitu Madrasah Diniyah Al-Furqon II. Kemudian tahun 2014 Pak Yai Mus mendirikan TK/TPA Al-Furqon II.6

4 Wawancara dengan Bu Nyai Hj. Ratna Nur Ikhsani, istri pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman pada hari Selasa tanggal 06 Agustus 2019 jam 15:300 di Aula/Musholla.

5 Wawancara dengan Pak Ratimin selaku kepala sekolah SMK Nurul Iman dan sekertaris Yayasan Sosial dan Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Iman, pada hari Senin tanggal 19 Agustus 2019, bertempat ruangan kepala sekolah SMK Nurul Iman

6 Wawancara dengan Didik Saepudin, S.TH.i, selaku kepala Madrasah Diniyah Al- Furqon II Pondok Pesantren Nurul Iman, pada hari Rabu tanggal 14 Agustus 2019, bertempat di Kedai Barrak & Gallery Coffe





Minggu, 03 Maret 2024

Filosofi Tari Sufi




Pendahuluan

Tari Sufi adalah bentuk ekspresi spiritual yang berasal dari tradisi tasawuf, khususnya dari ordo Mevlevi yang berdiri di wilayah Turki pada abad ke-13. Tarian ini dikenal pula sebagai sema, sebuah praktik meditatif dan ritual mistik yang melibatkan gerakan berputar secara terus-menerus dengan arah berlawanan jarum jam—searah dengan rotasi bulan mengelilingi bumi. Praktik ini pertama kali dikenalkan dan dipopulerkan oleh Jalaluddin Rumi, seorang sufi besar, penyair, dan cendekiawan asal Persia yang hidup pada abad ke-13.

Makna dan Simbolisme Tari Sufi

Tari Sufi bukan sekadar pertunjukan estetika, melainkan wujud kontemplasi dan pendekatan kepada Yang Maha Esa. Setiap unsur dalam tarian ini memiliki makna simbolis yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai sufistik seperti kerendahan hati, ketundukan, cinta ilahiah, dan transformasi spiritual. Kostum penari sufi pun sarat makna—jubah panjang (disebut tennure) melambangkan kain kafan, sedangkan ikat kepala (disebut sikke) melambangkan batu nisan, sebagai simbol kematian ego atau nafs.



Filosofi Gerakan Tari Sufi

Berikut ini penjabaran filosofis dari beberapa gerakan utama dalam Tari Sufi.

1. Tumit Kaki Kiri sebagai Titik Pusat Putaran

Gerakan memutar tubuh dilakukan dengan menjadikan tumit kaki kiri sebagai poros. Filosofinya mencerminkan keteguhan iman manusia yang tidak tergoyahkan oleh dunia. Di tengah pusaran kehidupan, seorang sufi tetap bersandar pada satu titik keyakinan yang mutlak: Allah sebagai pusat orientasi spiritual.

2. Menunduk dan Kedua Tangan Menyilang di Dada

Sebelum mulai berputar, penari akan menundukkan kepala dan menyilangkan kedua tangan di dada. Gerakan ini melambangkan penyerahan total dan kerendahan hati. Ungkapan sufistik yang menyertainya ialah: “Dari sekian banyak manusia yang paling rendah, aku berada di bawahnya.” Ini mencerminkan kesadaran spiritual bahwa hakikat seorang hamba adalah hina dan tak memiliki apa-apa di hadapan Sang Pencipta.

3. Kedua Telapak Tangan di Perut

Posisi tangan ini menggambarkan simbolisasi janin dalam kandungan. Gerakan ini melambangkan kemurnian, awal penciptaan, serta kembalinya manusia ke fitrah sebagai makhluk yang lemah dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Ini merupakan tahapan tajrid, yakni pemurnian diri dari segala bentuk pengaruh duniawi.

4. Tangan Kanan Terangkat ke Atas

Saat mulai berputar, tangan kanan penari biasanya mengarah ke atas. Filosofi dari gerakan ini adalah permohonan kepada Allah: meminta pertolongan, pengampunan, serta limpahan hidayah dan cinta Ilahi. Tangan kanan menjadi simbol keterbukaan manusia terhadap energi spiritual dari langit.

5. Tangan Kiri Mengarah ke Bawah

Sebaliknya, tangan kiri penari mengarah ke bawah, melambangkan pemberian tanpa pamrih. Maknanya: apa pun kebaikan yang diperoleh dari Tuhan harus disebarkan kepada makhluk di bumi tanpa mengharapkan balasan. Ini adalah praktik nyata dari kasih sayang universal (rahmatan lil ‘alamin).

6. Urutan Keseluruhan Gerakan

Rangkaian gerakan Tari Sufi dimulai dengan menundukkan badan dari pinggang hingga kepala, dengan tangan menyilang di dada sebagai lambang ketundukan. Kemudian kedua tangan berada di perut sebagai simbol fitrah. Setelah itu, saat mulai berputar, tangan kanan diangkat ke atas dan tangan kiri mengarah ke bawah, menciptakan poros gerak vertikal antara langit dan bumi. Seluruh gerakan diatur secara harmonis untuk membantu penari masuk ke dalam kondisi wajd (ekstase spiritual).

Penutup

Tari Sufi adalah representasi dari perjalanan batin manusia dalam mencari dan menyatu dengan Sang Pencipta. Lewat gerakan yang repetitif dan simbolik, penari sufi melampaui batas-batas fisik untuk meraih kesadaran transendental. Dalam setiap putaran, mereka tidak sekadar menari, tetapi sedang melakukan zikir dalam bentuk gerak, menjadikan tubuh sebagai media kontemplasi dan cinta Ilahi. Maka, Tari Sufi bukanlah sekadar kesenian, tetapi jalan spiritual yang menghantarkan manusia menuju keheningan dan kehadiran Tuhan dalam batinnya.




Filsafat, Sastra, Sikologi, Politik, Dan Lain-Lain

MENELUSURI MAKNA BATIN DALAM SHOLAWAT TARHIM KARYA SYEKH MAHMUD KHALIL AL-HUSSARY PERSPEKTIF HERMENEUTIKA SPIRITUAL

https://images.app.goo.gl/qK9ikfrS573EoYht7 Penulis: Muhamad Zafron Wasiq Nuristafilosofi.com Sudah tidak asing lagi bagi kita jika mendeng...